Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Ketahanan Pangan

Berdasarkan kondisi perubahan iklim yang terjadi, diketahui bahwa perubahan suhu dan pola cuaca dapat memberikan dampak terhadap ketahanan pangan. Hal tersebut dapat dilihat dari suhu udara rata-rata Indonesia pada tahun 2024 yang mencapai 27,5°C atau sekitar 0,8°C lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata periode normal 1991-2020. Berdasarkan periode pengamatan 1981-2024, tahun 2024 juga tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia (BMKG, 2025). Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap sektor pertanian karena perubahan suhu dan curah hujan dapat memengaruhi musim tanam, ketersediaan air, produktivitas tanaman, hingga risiko gagal panen. Pada penelitian Rosalia dan Mulyaningsih (2022), perubahan temperatur dan curah hujan diketahui dapat memengaruhi produksi pertanian sehingga berdampak terhadap ketahanan pangan.

Dampak perubahan iklim terhadap pangan tidak hanya memengaruhi jumlah produksi, tetapi juga memengaruhi harga dan kemampuan masyarakat dalam memperoleh makanan. Ketika produksi mengalami penurunan, jumlah pangan yang tersedia dapat berkurang sehingga harga berpotensi meningkat. Kondisi tersebut lebih berisiko bagi masyarakat berpendapatan rendah karena daya beli mereka menjadi terbatas. Berdasarkan The State of Food Security and Nutrition in the World 2025, inflasi harga pangan dapat menurunkan daya beli dan menyulitkan masyarakat memperoleh makanan sehat terutama pada kelompok berpendapatan rendah.

Selain memengaruhi harga pangan, perubahan iklim juga dapat menurunkan keberagaman makanan yang dikonsumsi masyarakat. Ketika pangan bergizi menjadi lebih sulit dijangkau, masyarakat dapat lebih bergantung pada makanan yang relatif murah dan mengenyangkan. UNICEF Indonesia (2024) menjelaskan bahwa perubahan suhu, pola hujan yang tidak menentu, dan kejadian cuaca ekstrem dapat mengganggu sistem pangan serta meningkatkan risiko kerawanan pangan dan masalah gizi, terutama pada anak-anak dan keluarga berpendapatan rendah. Oleh karena itu, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga akses terhadap pangan yang aman, beragam, dan bergizi.

Perubahan Iklim dan Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan dampak yang ditimbulkan, perubahan iklim dapat memengaruhi kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya risiko akibat panas ekstrem, banjir, kekeringan, badai, serta gangguan terhadap ketersediaan pangan dan air. Menurut WHO (2024), perubahan iklim dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit yang ditularkan melalui vektor dan air serta gangguan terhadap layanan kesehatan dan sanitasi. Anak-anak, lansia, masyarakat berpendapatan rendah, dan masyarakat yang tinggal di wilayah rentan dapat menghadapi risiko yang lebih besar.

Kelompok masyarakat tertentu memiliki risiko yang lebih besar terhadap dampak perubahan iklim. Hal tersebut dapat dilihat pada masyarakat yang tinggal di wilayah rentan serta kelompok yang memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya dan layanan kesehatan. Berdasarkan penelitian Sulistiadi et al. (2024), perubahan iklim di Indonesia tidak hanya memberikan dampak terhadap kesehatan secara langsung, tetapi juga dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan budaya yang dapat memengaruhi ketahanan sistem kesehatan. Selain itu, kualitas udara menjadi salah satu bagian penting dalam hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas rumah kaca sekaligus berbagai polutan udara seperti partikulat dan nitrogen oksida (WHO, 2025).

Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dapat membantu menurunkan emisi gas rumah kaca sekaligus mengurangi paparan masyarakat terhadap polusi udara. Hubungan tersebut juga dapat dilihat melalui pangan dan gizi. Ketika perubahan iklim mengganggu produksi, distribusi, dan harga pangan, masyarakat dapat mengalami kesulitan dalam memperoleh makanan yang beragam dan bergizi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim, pangan, lingkungan, energi, dan kesehatan saling berkaitan dan perlu dipertimbangkan secara bersama-sama.

Mengapa Transisi Energi Bersih Penting?

Berdasarkan dampak perubahan iklim terhadap lingkungan dan kesehatan, diketahui bahwa pengurangan penggunaan bahan bakar fosil menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui transisi energi, yaitu perubahan dari penggunaan energi yang banyak bergantung pada bahan bakar fosil menuju penggunaan energi rendah emisi dan energi terbarukan. Sumber energi terbarukan dapat berasal dari matahari, angin, air, panas bumi, dan bioenergi.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar. Berdasarkan data Kementerian ESDM (2023), total potensi energi baru dan terbarukan Indonesia mencapai sekitar 3.686 GW yang berasal dari energi surya, angin, hidro, bioenergi, panas bumi, dan energi laut. Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan target Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat dengan dukungan internasional, dengan pengembangan energi terbarukan sebagai salah satu bagian dari strategi untuk mencapai target tersebut.

Namun, besarnya potensi tersebut tidak berarti transisi energi dapat dilakukan tanpa persiapan. Pembangunan infrastruktur, investasi, teknologi, jaringan listrik, sistem penyimpanan energi, dan sumber daya manusia perlu dikembangkan secara bersamaan. Selain itu, energi harus tetap tersedia, dapat diandalkan, dan terjangkau bagi masyarakat. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga bagaimana perubahan sistem energi dapat memberikan manfaat bagi sektor pertanian, pangan, ekonomi, dan kesehatan.

Hubungan Energi Bersih dengan Ketahanan Pangan

Berdasarkan hubungan antara energi dan pangan, diketahui bahwa energi memiliki peran dalam hampir seluruh proses sistem pangan. Energi digunakan untuk mengairi lahan, menjalankan mesin pertanian, mengolah hasil panen, menyimpan dan mendinginkan makanan, hingga mendistribusikan pangan. Hubungan antara pangan, energi, dan air dikenal sebagai Food-Energy-Water Nexus. Nugroho (2020) menjelaskan bahwa ketiga sektor tersebut memiliki keterkaitan yang kuat serta berhubungan dengan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Energi terbarukan dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi di sektor pertanian. Salah satu contohnya adalah penggunaan pompa air tenaga surya untuk membantu sistem irigasi di Desa Keliki, Ubud, Gianyar, Bali. Berdasarkan laporan Kementerian ESDM (2022), penggunaan pompa tersebut dikembangkan karena adanya keterbatasan jaringan listrik dan permasalahan pengairan sawah pada kondisi tertentu, terutama saat musim kemarau. Contoh tersebut menunjukkan bahwa energi bersih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berhubungan langsung dengan produksi pangan.

Namun, penggunaan energi terbarukan tidak secara otomatis menjamin ketahanan pangan. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah, kebutuhan air, biaya pemasangan, serta kemampuan masyarakat dalam melakukan pemeliharaan. Meskipun demikian, penggunaan energi yang lebih efisien dan rendah emisi dapat membantu mendukung kegiatan pertanian. Dengan terpenuhinya kebutuhan energi untuk irigasi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi, sistem pangan memiliki peluang untuk menjadi lebih tangguh terhadap berbagai gangguan.

Transisi Energi Bersih dan Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan hubungan antara energi dan kesehatan, diketahui bahwa salah satu manfaat transisi energi bersih adalah mengurangi sumber polusi udara. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas rumah kaca sekaligus berbagai polutan udara. Tindakan mitigasi yang mengurangi pembakaran bahan bakar fosil dapat memberikan health co-benefits karena sumber emisi gas rumah kaca dan polusi udara sering berasal dari aktivitas yang sama.

Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dapat membantu menurunkan paparan masyarakat terhadap polutan udara sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Kondisi tersebut dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan masyarakat dan membantu mengurangi tekanan terhadap perubahan iklim dalam jangka panjang. Perubahan iklim sendiri dapat memengaruhi berbagai faktor dasar kesehatan, termasuk ketersediaan pangan, air, tempat tinggal, dan kondisi lingkungan.

Hubungan energi dan kesehatan juga dapat dilihat dalam sistem pangan. Produksi, pengolahan, penyimpanan, pendinginan, dan distribusi makanan membutuhkan energi. Penggunaan sumber energi yang lebih bersih dalam proses tersebut dapat membantu mengurangi emisi sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Namun, pembangunan energi terbarukan tetap membutuhkan lahan, bahan, biaya, dan infrastruktur sehingga penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan dan masyarakat agar tidak menimbulkan masalah baru.

Tantangan Transisi Energi Bersih di Indonesia

Berdasarkan kondisi Indonesia, diketahui bahwa transisi energi memiliki potensi besar tetapi masih menghadapi berbagai tantangan. Hal tersebut dapat dilihat dari kebutuhan investasi, pembangunan infrastruktur, pengembangan jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung penggunaan energi terbarukan. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil juga membuat proses perubahan tidak dapat dilakukan secara instan karena sistem energi yang ada telah melibatkan industri, tenaga kerja, investasi, dan pola konsumsi masyarakat dalam waktu yang cukup lama.

Tantangan lainnya berkaitan dengan pemerataan akses energi. Pengembangan energi bersih tidak hanya perlu diarahkan pada wilayah perkotaan dan industri, tetapi juga masyarakat yang masih memiliki keterbatasan akses energi. Dalam sektor pertanian, penggunaan pompa tenaga surya dapat menjadi salah satu contoh teknologi yang membantu wilayah dengan keterbatasan jaringan listrik. Namun, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan biaya pemasangan, kemampuan pemeliharaan, kebutuhan energi, kondisi geografis, dan ketersediaan sumber daya.

Aspek sosial dan ekonomi juga perlu diperhatikan dalam proses transisi. Energi merupakan kebutuhan dasar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan kegiatan ekonomi sehingga perubahan sistem energi harus tetap memastikan energi tersedia, dapat diandalkan, dan terjangkau. Dengan demikian, keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan untuk memastikan manfaat energi bersih dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Peran Pemerintah, Masyarakat, dan Generasi Muda

Berdasarkan kebutuhan dalam proses transisi energi, diketahui bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan sistem yang mendukung penggunaan energi bersih. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penyusunan kebijakan, pembangunan infrastruktur, dukungan penelitian dan inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta penyediaan pendanaan. Kebijakan energi juga perlu dihubungkan dengan sektor pangan, air, lingkungan, dan kesehatan karena perubahan pada satu sektor dapat memberikan dampak terhadap sektor lainnya.

Sektor swasta dapat berperan melalui peningkatan efisiensi penggunaan energi, pemanfaatan sumber energi rendah emisi, dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam sektor pangan, teknologi hemat energi dapat diterapkan dalam proses pengolahan, penyimpanan, pendinginan, dan distribusi pangan. Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi melalui penggunaan energi secara lebih efisien dan pengurangan pemborosan pangan. Namun, perubahan perilaku tidak dapat menjadi satu-satunya solusi karena pilihan masyarakat juga dipengaruhi oleh harga, ketersediaan, infrastruktur, dan kebijakan.

Generasi muda juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan kegiatan yang meningkatkan kesadaran mengenai hubungan antara perubahan iklim, energi, pangan, dan kesehatan. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar transisi energi tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut, perubahan iklim memiliki hubungan yang erat dengan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi pangan, harga makanan, akses terhadap pangan bergizi, kualitas udara, serta kondisi kesehatan. Transisi energi bersih dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi dampak tersebut melalui pengurangan emisi dan polusi udara serta pemanfaatan energi terbarukan dalam sistem pangan. Namun, keberhasilannya tetap membutuhkan investasi, teknologi, infrastruktur, kebijakan, pemerataan akses, dan perhatian terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, transisi energi di Indonesia perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

Ditulis Oleh: Salwa Hanifa (Divisi Research)

Sumber

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2025, January 3). Anomali suhu udara rata-rata tahun 2024. https://www.bmkg.go.id/iklim/anomali-suhu-udara/anomali-suhu-udara-rata-rata-tahun-2024 

Food and Agriculture Organization of the United Nations, International Fund for Agricultural Development, United Nations Children’s Fund, World Food Programme, & World Health Organization. (2025). The state of food security and nutrition in the world 2025: Addressing high food price inflation for food security and nutrition. FAO. https://doi.org/10.4060/cd6008en 

Intergovernmental Panel on Climate Change. (2022). Climate change 2022: Impacts, adaptation and vulnerability: Chapter 5—Food, fibre and other ecosystem products. Cambridge University Press. https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg2/chapter/chapter-5/ 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2022, March 24). Empat kerjasama menuju Net Zero Emission tahun 2060 ditandatangani. https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/empat-kerjasama-menuju-net-zerro-emission-tahun-2060-ditandatangani 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2022, August 22). Pompa air tenaga surya hadir, irigasi sawah Wayan lancar mengalir. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pompa-air-tenaga-surya-hadir-irigasi-sawah-wayan-lancar-mengalir 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2023, February 4). Miliki potensi EBT 3.686 GW, Sekjen Rida: Modal utama jalankan transisi energi Indonesia. https://esdm.go.id/en/media-center/news-archives/miliki-potensi-ebt-3686-gw-sekjen-rida-modal-utama-jalankan-transisi-energi-indonesia 

Nugroho, H. (2020). Memperkokoh keterkaitan ketahanan pangan, energi, dan air (Food-Energy-Water Nexus) dalam perencanaan pembangunan Indonesia. Bappenas Working Papers, 3(2), 238–243. https://doi.org/10.47266/bwp.v3i2.80 

Rosalia, A. C. T., & Mulyaningsih, T. (2022). Climate change impact on food security: A review. Sustinere: Journal of Environment and Sustainability, 6(3), 227–238. https://doi.org/10.22515/sustinerejes.v6i3.239 

Sulistiadi, W., Wasir, R., Thalib, W., Ayuningtyas, D., Bawazier, N., et al. (2024). Building health systems resilience: Understanding the social, economic, and cultural impacts of climate change from stakeholders’ perspectives in Indonesia. Archives of Public Health, 82, 168. https://doi.org/10.1186/s13690-024-01403-4

UNICEF Indonesia. (2024). Climate change and nutrition in Indonesia: A review of the evidence for policy and programme strengthening. https://www.unicef.org/indonesia/nutrition/reports/climate-change-nutrition-indonesia 

World Health Organization. (2024). Guidance on climate change and health. https://www.who.int/tools/compendium-on-health-and-environment/climate-change 

World Health Organization. (2025, July 17). Health and air pollution co-benefits of climate change mitigation: Science and policy snapshots on air quality, energy and health. https://www.who.int/publications/i/item/B09460 

Leave a Comment