
Belakangan ini nyari gas LPG 3 kg alias si “gas melon” rasanya kayak nyari harta karun—susah banget! Kalau pun ada, harganya melambung tinggi. Gas pink 5,5 kg juga ikutan mahal. Jadi, sebenarnya apa yang bikin gas LPG langka dan harganya makin mahal? Yuk, kita bahas bareng!
Gas Langka, Kok Bisa?
Jadi begini, mulai 1 Februari 2025, pemerintah bikin aturan baru yang melarang penjualan LPG 3 kg di pengecer. Sekarang, gas melon cuma bisa dibeli di agen resmi Pertamina. Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, aturan ini dibuat untuk mencegah penyaluran gas subsidi yang nggak tepat sasaran dan menghindari permainan harga di lapangan.
Bahlil bilang, ada laporan kalau harga LPG 3 kg di masyarakat sering dimainin. Harga asli gas elpiji 3 kg adalah Rp 42.750. Pemerintah telah memberikan subsidi sebesar Rp 30.000, sehingga harganya menjadi Rp 12.750. Tapi di lapangan, harganya bisa jauh lebih tinggi.
Bahlil mengatakan harga subsidi Rp12.750 per tabung itu merupakan harga yang diberikan Pertamina. Menurutnya, harga itu bisa naik jika sampai di pengecer yang kini naik level menjadi sub-agen. Namun, kata Bahlil, seharusnya harga LPG 3 kg di pengecer tak lebih dari Rp19.000 per tabung.
“Agen baru ke pangkalan itu Rp16.000 sampai ke pengecer harusnya Rp19.000 maksimal, Rp18.000, Rp19.000. Tapi kalau ada yang menjual seharga Rp26.000 berarti kan ada yang keliru,” kata Bahlil. Nah, supaya nggak ada yang curang, pemerintah mau lebih ketat mengawasi distribusi gas melon. Kalau ada pangkalan yang ketahuan jual mahal di luar aturan, izinnya bisa dicabut, lho!
Dampak Aturan Baru: Langka dan Antrean Panjang
Gara-gara aturan ini, banyak agen dan pengecer yang udah beberapa hari nggak dapet stok LPG 3 kg. Beberapa warga yang biasanya beli di warung dekat rumah sekarang harus antre panjang di pangkalan resmi. Jadi wajar aja kalau banyak yang merasa gas melon jadi makin langka dan mahal. Selain itu, aturan ini juga masih dalam masa transisi. Artinya, sistem baru belum berjalan mulus, jadi masih ada sedikit kekacauan dalam distribusi.
Presiden Prabowo Turun Tangan, Pengecer Bisa Jual Lagi!
Melihat antrean panjang dan keluhan masyarakat, akhirnya Presiden Prabowo Subianto turun tangan. Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengungkapkan bahwa Presiden langsung menginstruksikan Menteri ESDM untuk mengizinkan pengecer jualan lagi. Jadi, per 4 Februari 2025, pengecer gas melon bisa kembali berjualan seperti biasa.
Awalnya, peralihan dari pengecer ke pangkalan resmi dibuat supaya distribusi lebih tercatat dan tepat sasaran. Tapi, karena kondisi di lapangan belum siap, akhirnya kebijakan ini dilonggarkan lagi.
Gas 3 Kg untuk Siapa, Tapi Dipakai Siapa?
Gas melon 3 kg ini sebenarnya buat masyarakat berpenghasilan rendah dan disubsidi pemerintah. Tapi kenyataannya, banyak yang nggak berhak malah ikut pakai. Ada warung makan besar, usaha laundry besar, bahkan orang yang sebenarnya mampu beli gas nonsubsidi tapi tetap berburu gas melon karena lebih murah. Akibatnya? Stok jadi cepat habis, dan yang benar-benar butuh malah kesulitan dapet gas.
Terus Apa Perbedaan Bright Gas dan Elpiji?
- Harga dan Subsidi
Pertama-tama, mari kita bahas soal harga. Elpiji ukuran 3 kg dijual sekitar Rp 16.000 di pangkalan resmi Pertamina. Nah, kalau Bright Gas, harganya lebih tinggi, yaitu Rp 98.000 untuk ukuran 5,5 kg dan Rp 209.000 untuk ukuran 12 kg. Kenapa bisa beda jauh? Itu karena elpiji 3 kg mendapatkan subsidi dari pemerintah, jadi harganya lebih terjangkau untuk masyarakat berpendapatan rendah. Sementara Bright Gas, yang ditujukan untuk kalangan menengah ke atas dan kegiatan komersial, tidak mendapatkan subsidi.
- Ukuran dan Warna Tabung
Selanjutnya, kita lihat dari segi ukuran dan warna tabung. Elpiji biasanya hadir dalam ukuran 3 kg, sedangkan Bright Gas tersedia dalam ukuran 5,5 kg dan 12 kg. Jadi, kalau kamu butuh pasokan lebih banyak, Bright Gas bisa jadi pilihan yang lebih tepat, terutama untuk keluarga besar atau usaha kuliner. Oh ya, jangan lupa soal warna! Tabung Bright Gas berwarna pink, sedangkan tabung elpiji berwarna hijau. Jadi, gampang banget kan membedakannya?
- Keamanan Tabung
Nah, ini dia yang penting! Keamanan tabung. Bright Gas dilengkapi dengan teknologi katup ganda atau double spindle valve system yang bikin gasnya lebih aman dan mencegah kebocoran. Selain itu, ada segel plastik khusus yang memastikan keaslian gas. Di sisi lain, tabung elpiji subsidi ukuran 3 kg biasanya tidak dilengkapi dengan teknologi secanggih itu, jadi lebih rentan mengalami kebocoran jika tidak dirawat dengan baik.
- Ketersediaan Pasar
Elpiji bersubsidi lebih mudah ditemukan di warung kecil atau agen gas lokal di berbagai daerah. Sementara itu, Bright Gas lebih banyak tersedia di pusat perbelanjaan modern seperti minimarket dan supermarket besar. Tapi regulasi yang baru ditetapkan di 1 Februari 2025 ini, bikin gas elpiji di warung kecil atau gas lokal sulit ditemukan.

6 Comments
Mereka Yg beli LPG 3kg itu sesuai kebutuhan dan kesanggupan mereka. Jgn hnya lihat hnya dari tepat sasaran miskin. BgmnKalau lansia, yang jauh dari anak2 atau gak punya anak, gak ada kendaraan. Apa harus nenteng gas yg berat? Gak bisa pke Kendaraan , atau harus jaga ortu yg sepuh gak bisa ditinggal. Ini masalah perut dan penghidupan. Rakyat beli sesuai kesanggupan bukan korupsi. Pemerintah harus melek jgn dipersulit.
Harusnya LPG dibuat gratis utk seluruh rakyat.
Krn sesuai UUD 1945 pasal 33 ayat 3 “bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
LG pula kaya miskin gak makan gas LPG. Hnya butuh untuk kompor itupun sesuai kebutuhan tidak rakus dan mencuri macam koruptor
Tinggal nunggu demonya aja ini mah. Asiik, bahlul dr fraksi golkar bisa habis. Prabowo bisa kena kritik besar² an kalo masakah gini aja ga kelar. Udah pasti dr pemerintahan ada permainan, menjelang puasa atau lebaran soalnya, pada cuan.
Sebagai rakyat kita harus bagaimana, rasa²na semakin kesini rakyat di buat susah lagi….kita sudah susah, jangan dibuat susah lagi….tolong pihak terkait agen² LPG Sidak jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak yg menguntungkan diri sendiri
Wahai Mentri yang mengurusi gas …anda tahu gak akibat kelangkaan gas 3 kg dipengecer kamirakyat kecil yang jadi korban…masak harus nyari sejauh 5 + 10 Km untuk dapat gas dan itupun antrinya lama….. Tidak bisakah anda berpikir logis sedikit saja…anda jadi pemerintah baru aja sebentar sudah menimbulkan kekisruhan dimasyarakat kecil….lebih baik gas lebih mahas sedikit tapi sampai kekami….
Dengan kelangkaan dan mahalnya gas elpiji membuat rakyat semakin sengsara. Diakui atau tidak tapi memang justru membuat rakyat kecil semakin menjerit…. Adakah cara agar rakyat bisa hdp tenang tentram dan bahagia??????